Rapihin.id

Skema Termin Proyek Interior: Cara Mengatur DP, Termin, dan Pelunasan supaya Kas Nggak Seret

Kontraktor interior mengecek jadwal termin pembayaran proyek kitchen set

Pernah mengalami ini? Di atas kertas, proyekmu untung. Hitungan RAB sudah rapi, margin juga sudah aman. Tapi di tengah jalan, kamu malah pusing karena uang untuk belanja material tidak cukup.

Ujung-ujungnya, kamu menalangi pakai uang pribadi. Atau lebih parah lagi, kamu memakai DP dari proyek lain.

Biasanya masalah ini bukan soal untung atau rugi. Masalahnya ada di skema termin: kapan uang masuk dari klien, dan berapa besarnya di setiap tahap.

Di artikel ini, kita bahas tuntas soal termin di proyek interior. Mulai dari pengertiannya, skema yang paling sering dipakai, cara menghitung DP yang aman, sampai cara memantau tagihan supaya tidak ada yang terlupa.


Apa Itu Termin Pembayaran di Proyek Interior?

Termin adalah pembayaran bertahap dari klien yang dikaitkan dengan tahapan pekerjaan. Klien tidak membayar penuh di awal, dan kamu juga tidak menunggu sampai proyek selesai untuk dibayar.

Contoh yang paling sering kita temui:

  • DP (uang muka): dibayar saat kontrak ditandatangani
  • Termin progres: dibayar saat tahap tertentu selesai, misalnya produksi di workshop rampung
  • Pelunasan: dibayar setelah serah terima pekerjaan

Kedengarannya sederhana. Tapi ada satu hal yang sering dilupakan: di proyek interior, kamu hampir selalu mengeluarkan uang lebih dulu sebelum klien membayar penuh.

Multipleks, HPL, granit, dan hardware harus dibeli di awal. Tukang juga harus digaji setiap minggu. Kalau skema terminnya tidak pas, kamu yang menanggung selisihnya.


Kenapa Skema Termin Menentukan “Napas” Kas Bisnismu

Coba kita pakai contoh nyata. Kamu mengerjakan kitchen set dengan nilai kontrak Rp111,43 juta. Dari RAB, kebutuhan material dan hardware sekitar Rp42 juta, dan sebagian besar harus dibeli di minggu pertama.

Sekarang bandingkan dua skenario DP.

Skenario 1: DP 50%

  • DP diterima: Rp55,71 juta
  • Belanja material awal: Rp42 juta
  • Sisa: +Rp13,71 juta, masih ada ruang untuk upah tukang minggu pertama

Skenario 2: DP 30%

  • DP diterima: Rp33,43 juta
  • Belanja material awal: Rp42 juta
  • Sisa: −Rp8,57 juta, artinya kamu harus menalangi

Selisih 20% di DP ternyata menentukan apakah proyek ini “bernapas sendiri” atau malah menyedot kas dari tempat lain.

Sekarang bayangkan kamu menjalankan tiga proyek dengan DP kecil secara bersamaan. Kekurangan kasnya menumpuk. Di titik ini, banyak kontraktor mulai “gali lubang tutup lubang”: DP proyek baru dipakai untuk menutup belanja proyek lama.

Bisnisnya terlihat ramai, tapi kasnya selalu tegang.

Perbandingan DP 50% dan 30% terhadap belanja material proyek kitchen set Rp111,43 juta

Prinsip dasarnya: DP idealnya minimal sama dengan kebutuhan belanja awal, ditambah sedikit cadangan.


4 Skema Termin yang Sering Dipakai Kontraktor Interior

Empat skema termin proyek interior: 50-40-10, 30-40-20-10, 50-50, dan progres fisik

Tidak ada satu skema yang cocok untuk semua proyek. Berikut empat pola yang paling sering kita temui di lapangan, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

1. Skema 50 – 40 – 10

Termin Pemicu %
DP Tanda tangan kontrak 50%
Termin 2 Produksi selesai / unit siap kirim 40%
Pelunasan Serah terima 10%

Cocok untuk: kitchen set, wardrobe, dan furniture custom yang diproduksi di workshop.

Kelebihan: DP besar cukup untuk menutup belanja material. Pelunasannya kecil, jadi klien juga merasa aman.

Perlu diwaspadai: pelunasan 10% ini yang paling sering terlupa. Kelihatannya kecil, tapi untuk proyek Rp100 jutaan, nilainya Rp10 jutaan.

2. Skema 30 – 40 – 20 – 10

Termin Pemicu %
DP Tanda tangan kontrak 30%
Termin 2 Material tiba & produksi dimulai 40%
Termin 3 Pemasangan di lokasi 20%
Pelunasan Serah terima 10%

Cocok untuk: proyek bernilai besar, misalnya interior satu rumah atau kantor, saat klien keberatan dengan DP besar.

Kelebihan: lebih mudah diterima klien, dan arus kas tersebar lebih merata.

Perlu diwaspadai: DP 30% sering tidak cukup untuk belanja awal. Supaya aman, pastikan termin 2 jatuh sebelumbelanja besar berikutnya.

3. Skema 50 – 50

Termin Pemicu %
DP Tanda tangan kontrak 50%
Pelunasan Serah terima 50%

Cocok untuk: proyek kecil yang selesai cepat, misalnya backdrop TV atau rak display, dengan durasi 2–4 minggu.

Kelebihan: sangat simpel, administrasinya ringan.

Perlu diwaspadai: 50% terakhir itu besar. Kalau klien menunda serah terima (“nanti dulu, Pak, saya masih di luar kota”), setengah nilai proyekmu ikut tertahan.

4. Termin Berdasarkan Progres Fisik

Pembayaran dikaitkan dengan persentase pekerjaan yang sudah selesai. Biasanya ada pengecekan atau opname bersama klien, misalnya di progres 25%, 50%, 75%, dan 100%.

Cocok untuk: proyek renovasi besar atau proyek dengan klien korporat.

Kelebihan: paling adil untuk kedua pihak, karena pembayaran mengikuti kemajuan pekerjaan.

Perlu diwaspadai: administrasinya paling repot. Setiap termin butuh bukti progres, dan kalau ada beda pendapat soal “sudah 50% atau belum”, penagihannya jadi molor.


Cara Menentukan Skema Termin yang Pas untuk Proyekmu

Daripada asal ikut kebiasaan, coba pakai lima langkah ini setiap kali menyusun penawaran.

1. Hitung kebutuhan belanja di awal proyek.
Lihat RAB-mu. Berapa nilai material dan hardware yang harus dibeli sebelum produksi dimulai? Itu angka minimal yang harus ditutup oleh DP.

2. Tetapkan DP minimal sebesar belanja awal plus cadangan.
Kalau belanja awalnya Rp42 juta dari kontrak Rp111 juta (sekitar 38%), DP 40% sudah pas-pasan. DP 50% memberi ruang untuk upah dan kebutuhan tak terduga.

3. Kaitkan termin dengan milestone, bukan tanggal.
“Termin 2 dibayar saat unit selesai diproduksi” jauh lebih jelas daripada “termin 2 dibayar tanggal 15”. Kalau proyek molor karena revisi dari klien, kamu tidak terjebak tanggal yang sudah tidak relevan.

4. Buat pelunasan kecil, tapi tetap ada.
Pelunasan 5–10% di akhir memberi rasa aman bagi klien. Kalau terlalu besar (misalnya 30–50%), posisi tawarmu jadi lemah saat serah terima.

5. Tulis semuanya di kontrak.
Minimal cantumkan: persentase dan nominal tiap termin, pemicu atau milestone-nya, batas waktu pembayaran (misalnya 7 hari setelah tagihan dikirim), dan apa yang terjadi kalau pembayaran terlambat (misalnya produksi atau pemasangan ditunda). Untuk kontrak bernilai besar, sebaiknya minta pendapat orang yang paham hukum kontrak.

Cek dulu margin penawaranmu sebelum menyusun termin. Masukkan angka RAB-mu di Kalkulator Margin Proyek Interior. Gratis, dan hasilnya langsung terlihat.


6 Kesalahan Termin yang Paling Sering Bikin Kas Bocor

Dari pengalaman kami mendampingi kontraktor interior, kesalahan berikut paling sering muncul. Coba cek, mana yang pernah kamu alami.

1. DP diperkecil supaya cepat closing.
Klien menawar DP jadi 20%, dan kamu setuju karena takut kehilangan proyek. Hasilnya, kamu menalangi belanja material di awal. Lebih baik tawarkan opsi spesifikasi yang berbeda daripada memotong DP terlalu jauh.

2. Termin pakai tanggal, bukan pemicu yang jelas.
Saat proyek molor, kamu bingung harus menagih atau tidak. Klien juga merasa belum waktunya membayar karena pekerjaannya belum sampai tahap itu.

3. Pelunasan terlupa ditagih.
Setelah serah terima, perhatianmu sudah pindah ke proyek berikutnya. Pelunasan 10% baru teringat dua bulan kemudian, dan menagihnya jadi canggung.

4. Revisi klien tidak ditagih terpisah.
Klien minta tambah rak bumbu atau ganti warna HPL. Pekerjaannya kamu kerjakan, tapi tidak pernah masuk ke tagihan mana pun. Setiap revisi yang disetujui seharusnya punya termin tambahan sendiri.

5. DP dianggap sebagai “pemasukan bebas”.
DP masuk ke rekening yang sama dengan uang proyek lain, lalu terpakai untuk keperluan lain. Padahal DP itu sebenarnya uang titipan proyek yang masih harus dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan.

6. Tidak ada pengingat jatuh tempo.
Semua jadwal termin hanya ada di ingatan, atau tercecer di chat WhatsApp. Begitu proyek yang berjalan bersamaan lebih dari dua, pasti ada yang terlewat.


Contoh Jadwal Termin Lengkap: Kitchen Set Rp111,43 Juta

Supaya lebih kebayang, berikut contoh jadwal termin untuk proyek kitchen set dengan skema 50–40–10, ditambah satu change order dari klien.

Timeline termin kitchen set: DP lunas, termin 2 jatuh tempo, pelunasan dan change order belum ditagih

Ref Termin Pemicu % Nominal Jatuh tempo Status
P01-T1 DP Tanda tangan kontrak 50% Rp55.715.000 16 Sep Lunas
P01-T2 Termin 2 Produksi selesai 40% Rp44.572.000 10 Okt Jatuh tempo!
P01-T3 Pelunasan Serah terima 10% Rp11.143.000 15 Nov Belum ditagih
P01-T4 Change order Rak bumbu & lampu sensor – Rp3.450.000 15 Nov Belum ditagih

Perhatikan tiga hal dari tabel ini:

  • Setiap termin punya kode referensi (P01-T1, P01-T2, dan seterusnya). Saat uang klien masuk, kamu tinggal mencatat kode ini, jadi jelas termin mana yang sudah dibayar.
  • Change order punya baris sendiri. Tambahan Rp3,45 juta ini tidak tercampur dengan termin utama, jadi tidak ada yang terlupa.
  • Status langsung terlihat. Termin 2 sudah lewat jatuh tempo, jadi hari ini juga harus segera ditagih.

Kalau kamu mengelola tiga sampai lima proyek, tabel seperti ini bisa berisi 15–20 baris. Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai.


Memantau Termin: Kenapa Catatan Manual Mudah Kebobolan

Menyusun jadwal termin itu satu hal. Memantaunya setiap minggu adalah hal yang berbeda.

Dengan catatan manual atau Excel biasa, biasanya terjadi tiga hal ini:

  • Status tidak ter-update. Klien sudah transfer, tapi kolom status masih “Belum dibayar” karena lupa diubah.
  • Uang masuk dicatat dua kali. Sekali di buku kas, sekali lagi di daftar termin. Kalau salah satunya terlewat, datanya jadi tidak cocok.
  • Tidak ada peringatan. Termin yang sudah jatuh tempo terlihat sama saja dengan termin yang masih lama, karena tidak ada tanda apa pun.

Idealnya, sistem pencatatanmu bekerja seperti ini:

  1. Jadwal termin dibuat sekali di awal proyek.
  2. Uang klien yang masuk cukup dicatat sekali di buku kas, lengkap dengan kode termin.
  3. Status termin berubah otomatis: Belum ditagih, Jatuh tempo!, Dibayar sebagian, atau Lunas.
  4. Ada ringkasan total sisa tagihan dan termin yang sudah jatuh tempo, untuk semua proyek sekaligus.

Itulah alasan kami membuat Kit Kontrol Proyek Interior. Sheet Termin di dalamnya bekerja persis seperti alur di atas, dan terhubung dengan Buku Kas, RAB vs Realisasi, serta Dashboard semua proyek.

Sheet Termin di Kit Kontrol Proyek Interior dengan status jatuh tempo dan lunas otomatis

Mau lihat langsung cara kerjanya? Coba demo interaktifnya di halaman Kit Kontrol Proyek Interior. Klik tab “Termin”, lalu klik kolom “Diterima” untuk melihat rumusnya. Tidak perlu download apa pun.


DP Itu Uang Titipan, Bukan Keuntungan

Bagian ini sering diremehkan, padahal efeknya besar.

Saat DP Rp55 juta masuk, saldo rekening langsung terlihat “gemuk”. Rasanya bisnis sedang lancar. Tapi sebagian besar uang itu sudah punya tugas: membeli material, membayar tukang, dan menutup biaya pengiriman proyek tersebut.

Kalau DP dipakai untuk hal lain, misalnya belanja proyek baru, cicilan mesin, atau kebutuhan pribadi, masalahnya baru muncul beberapa minggu kemudian. Waktu proyek itu butuh belanja, uangnya sudah tidak ada.

Cara sederhana untuk mencegahnya:

  • Pantau kas per proyek. Hitung uang yang sudah diterima dikurangi biaya yang sudah keluar untuk setiap proyek. Kalau hasilnya minus, berarti proyek itu sedang ditalangi uang dari tempat lain.
  • Bandingkan dengan saldo rekening. Kalau saldo bank lebih kecil daripada total “uang proyek yang masih harus dipakai”, artinya ada DP yang sudah terpakai untuk keperluan lain.

Kami membahas topik ini lebih dalam di artikel Pembukuan Kontraktor Interior: Excel vs Software Akuntansi, termasuk cerita “saldo bank aman, padahal uangnya bukan milikmu”.


Kapan Perlu Naik ke Software Akuntansi?

Untuk 1–5 proyek yang berjalan bersamaan, tracker termin berbasis Excel yang terstruktur biasanya sudah cukup. Tapi ada beberapa tanda kalau sudah waktunya pindah:

  • Proyek yang berjalan bersamaan lebih dari 5
  • Ada lebih dari 2 orang yang mencatat transaksi
  • Skema termin makin beragam: progres fisik, retensi, termin berbasis opname
  • Kamu butuh laporan piutang yang rapi untuk bank atau investor

Di software seperti Accurate, ada fitur uang muka penjualan yang memungkinkan DP dipotong sebagian di setiap faktur termin, jadi sisa tagihan otomatis jelas. Perbandingan lengkapnya ada di artikel Accurate vs Kledo untuk Kontraktor Interior.

Kabar baiknya, data termin yang sudah rapi di Excel bisa dipindahkan ke software. Jadi kerja kerasmu merapikan data sekarang tidak akan sia-sia.


FAQ Seputar Termin Proyek Interior

Berapa DP yang ideal untuk proyek interior?
DP idealnya minimal sebesar kebutuhan belanja material di awal proyek, ditambah sedikit cadangan. Untuk kitchen set dan furniture custom, banyak kontraktor memakai DP 40–50% karena porsi material cukup besar.

Apa skema termin yang paling umum untuk kitchen set?
Skema 50–40–10 sering dipakai: DP 50% saat kontrak, 40% saat produksi selesai, dan 10% setelah serah terima. Tetap sesuaikan dengan porsi material di RAB-mu.

Bagaimana cara menagih biaya revisi dari klien?
Catat setiap revisi yang disetujui sebagai change order, lengkap dengan tambahan biaya dan harga yang disepakati. Lalu buat termin tagihan tersendiri untuk revisi itu, supaya tidak tercampur dengan termin utama.

Lebih baik termin berdasarkan tanggal atau progres pekerjaan?
Sebaiknya berdasarkan progres atau milestone yang jelas, misalnya “produksi selesai” atau “serah terima”. Kalau proyek molor, penagihanmu tetap punya dasar yang jelas.

Bagaimana cara memantau banyak termin dari beberapa proyek sekaligus?
Gunakan satu daftar termin untuk semua proyek, dengan kode referensi per termin dan status otomatis. Uang masuk cukup dicatat sekali di buku kas dengan kode termin tersebut, sehingga status lunasnya ter-update sendiri.


Saatnya Termin Kamu Nggak Ada yang Terlewat Lagi

Skema termin yang tepat membuat proyek bisa membiayai dirinya sendiri. Pemantauan yang rapi memastikan setiap rupiah yang menjadi hakmu benar-benar masuk.

Kit Kontrol Proyek Interior membantu kamu:

  • membuat jadwal termin dengan status otomatis dan peringatan jatuh tempo,
  • mencatat uang masuk cukup sekali lewat Buku Kas,
  • menagih change order tanpa ada yang terlupa,
  • memantau kas per proyek dan laba per proyek dari satu dashboard,
  • mencetak invoice termin dan BAST dalam hitungan detik.

Harga normal Rp179.000, sekarang Rp129.000. Pakai kode voucher SHOCKTOBER saat checkout supaya harganya jadi Rp99.000.

👉 Coba demo & dapatkan Kit Kontrol Proyek Interior

Masih ragu atau ingin konsultasi soal skema termin proyekmu? Hubungi tim Rapihin.id di WA 0822-1955-3030.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top